#abaikan

seorang gadis duduk di sebuah kursi bambu, menunggu senja yang lama tak ia sapa kini. di tangan kanannya segelas cokelat hangat yang sebentar lagi dingin sebelum habis diminumnya. minuman kesukaannya.
tangan kirinya menggenggam sesuatu. surat?
isinya:

Tuan,
Kalau kemarin adalah masalalu, bersihkan apa yang perlu. Sisakan apa yang masih bisa jd kenangan.
Kalau sekarang adalah masakini, lalui dengan yang pasti, kesalahan bukan sengaja untuk terjadi.hargai..
Kalau besok adalah masadepan, siapkan segelas cokelat panas ini untukku, sekedar menemaniku selesaikan hari.
Jika melepaskan untuk menyelamatkan, maka lakukan.
Jika resiko ada untuk diambil, maka jangan lagi sungkan.
Jika bermain air saja berani, lalu mengapa takut basah? hanya bajumu saja yg dingin karna air, tapi badanmu tetap hangat bersamaku, bersama segelas cokelat panasku..


Senja tak datang lagi sore ini, mendung awal tahun kembali merebutnya
Gadis itu tertunduk lesu menatap tanah, ia memilih tak habiskan cokelatnya yang kini dingin. kecewa? Ya,mungkin.
entah apa yang menjadi pikirannya. Hanya ada beberapa pertanyaan,

'Sebenarnya apa yg terjadi?'
'Mengapa harus serumit ini?'
'Mengapa tak dimudahkan saja dengan jalur biasanya?'
'Mengapa sedikit celah saja tak kulihat disana?'
'Aku? Mengapa hanya aku?'
'Sedang kamu?'

Gadis itu memilih beranjak,kaki mengajaknya pulang
Bola mata cokelatnya menatap lurus kedepan,kadang menyebar ke langit. mencari sesuatu yang tak ia tau, jemarinya bersembunyi dalam hangat saku sweaternya, menikmati jelang malam bersama lalu lalang manusia.
Tudung melindungi rambut ikal gelapnya dari gerimis
Headset mungil di telinga,dan mengalun lembut lirik lagu

▶ The Freelance Hellraiser - Want You to Know

Gerimis awal tahun ini memang tak seperti tahun lalu. Pembuka tahun yang sejuk, setelah euphoria pesta kembang api yg lebih mirip ledakan2 kecil indah di penjuru langit. manis, menyenangkan..
sekaligus cukup membuatnya lebih faham, bahwa setiap moment terjadi karna perasaan yg kau buat sendiri.
Gadis itu terus berjalan, mengitari jalan tengah kota.
Lampu kota seraya mengingatkan, waktunya ia kembali ke kewajibannya selepas sore itu.
bekerja.. #abaikan dulu yg sedaritadi berputar di kepala

Hingga detik ini, surat dan pertanyaan itu masih, masih sering terabaikan daripada dipedulikan.
Mungkin lebih baik terfikirkan nanti. Sama seperti sajak manis puisi jika waktu tak bisa bicara tapi ia mampu menjawab
nanti..

:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar